Tag: cerpen

  • STUDY OUTSIDE IN EMBUNG KLEDUNG

    STUDY OUTSIDE IN EMBUNG KLEDUNG

    TEMANGGUNG, Mts Al – Mu’min Muhammadiyah memiliki 3 kelas unggulan yaitu, kelas tahfidz, kelas riset dan kelas literasi. Kepala Program Literasi,Yunthofiah, S.Pd, mengadakan kegiatan “Kemah Literasi” yang bertempat di Embung Kledung Wonosobo.

    Kemah Literasi dilaksanakan selama dua hari. Rabu, 16 Maret 2022 jadwal pemberangkatan santriwati kelas literasi. Dan Kamis, 17 Mater 2022 jadwal pemberangkatan santriwan kelas literasi. Tujuan kegiatan “Kemah Literasi” adalah untuk memberikan suasana yang berbeda kepada santri dalam proses menciptakan karya terbaik, baik berupa puisi ataupun cerita pendek (cerpen).

    Kegiatan Kemah Literasi ini memperoleh buah karya terbaik yaitu,3 puisi terbaik dari santriwati, 3 puisi terbaik dari santriwan dan 1 cerpen terbaik dari santriwan. 3 puisi terbaik dari santriwati berjudul Harta Alam Negeriku karya Alifiya Syaza, Dibawah Langit Yang Mendung karya Syifa Anggraening Tyas dan Ciptaan Sang Maha Kuasa karya Nada L Maghfiroh. 3 puisi terbaik dari santriwan berjudul Keindahan Alam di Embung Kledung karya Raditya Yaslin, Alam Segar karya Cendika Abid, dan Indonesiaku Yang Indah karya Ervio Rafiansah.1 cerpen terbaik dari santriwan yang berjudul Persahabatan karya Muhammad Benzema.

    SALAM LITERASI…!!!

    AKTIF…!!!

    KREATIF…!!!

    INOVATIF…!!!

    (Umi Hasan P.J/Tsamuha)

  • Sahabat HW

    Sahabat HW

    Hari ini adalah hari rabu. Matahari tengah condong kea rah barat, menandakan hari mulai sore. Langit terlihat agak kelam, awan- awan hitam mendung banyak bergerombol seakan menghalangi sinar cerah sang mentari menghampiri bumi. Yah, mungkin sesuai dengan suasana hatiku sekarang.    

              Agak memalukan, tapi kuakui aku sedang menangis. Harusnya wajar kan, toh aku masih santri kelas tujuh  sudah memasuki semester ganjil. Akhir-akhir ini banyak sekali masalah yang menimpa. Ujian tengah semester saja sudah didepan mata. Duh, hanya memikirkannya, sudah membuatku mual. Parahnya lagi, semua itu jadi pengingatku pada keluargaku di rumah. Ya allah….. hancur semua tembok pertahanan yang telah kubangun sejak awal. “ sshh…. Sudah jangan menangis” hibur seseorang disampingku.

              Dia adalah sahabatku. Namanya adalah Zahra, tapi lebih akrab dipanggil zara. Kalau diingat-ingat, pertama kali kami bertemu, adalah ketika diadakan kegiatan ekskul wajib hizbul wathan yang pertama kali untuk angkatanku. Waktu itu, zara belum pindah sekolah ke pondok kami. Ia sedang mengunjungi kakak sepupu, yang kebetulan adalah salah satu pengurus HW. Zara membantu persiapan kegiatan HW dengan membagikan beberapa bendera simapore kepada para Pembina dan setiap peserta

              Saat itulah, kami bersitatap dan konyol sekali, dalam sepersekian detik tersebut aku merasa dia dapat menerawang isi hatiku. Zara kemudian menyunggingkan senyum manis, dengan tatapannya yang seakan berkata ‘semangat’ kepadaku. Sebenarnya dari dulu aku tidak menyukai kegiatan HW. Tapi apakah aku kelihatan selesu itu sampai dia bisa dapat membaca perasaanku? Uh, mungkin aku hanya berkhayal saja karena kebanyakan membaca novel fantasi.

              Lama termenung, aku pun tidak menyadari kehadiran orang-orang di sekeliling. Tiba-tiba, kurasakan seseorang menubrukku dari belakang. “aw!” aku meringis menahan rasa nyeri yang menjalari bahu. Ternyata yang menabrakku tadi adalah kakak sepupu zara, kak nirmala. Tapi alih-alih minta maaf kepada adik kelas yang dicelakainya, ia malah menyapa zara terlebih dahulu . “ hai ra. Assalamualaikum….. sedang apa kamu, sore begini malah duduk-duduk disini?” sapanya ramah dengan senyuman dewasa yang terkembang.

              “eh waalaikumussalam warahmatullah. Aku duduk disini buat nemenin temenku, kok kak “ zara tergagap. Kak mala — begitu panggilan zara kepadanya, kemudian melirik sekilas ke arahku, tapi dengan cepat pula ia memalingkan muka acuh tak acuh. “oh iya zara nanti tolong sampaikan ke santri-santri madrasah tsanawiyah lain, kalau habis asar ini ada kegiatan HW. Aku pergi dulu ya, syukron. Assalamualikum!” lanjut kak mala sambil terburu-buru berlalu dari hadapan kami. “ waalaikumusalam”

              Huh! Mentang-mentang kak mala adalah salah satu senior paling popular se-pesantren, dia bisa memperlakukan adik kelas seenakny sendiri ! aku merasa sangat kesal. Zara mengeratkan genggamannya pada tanganku, seakan untuk meredakan gejolak emosi dalam diriku. “uh, maafkan kak mala untuk yang tadi, mungkin kakak tidak sengaja. Dan, aku tahu dari dulu kalau kamu kurang menyukai kegiatan HW. Tapi, ayo jalani saja sore ini bersamaku dengan semangat, oke?” pintanya lirih. Aku tersenyum kecil, namun tetap mengiyakan. Diam-diam, aku merasa sangat beruntung memiliki sahabat yang pengertian, seperti zara. Huft…….semangat, diriku!

                                                             ————-

              Selepas sholat maghrib, aku dan zara kembali duduk-duduk di bangku depan kelas, sembarimemperhatikan jammah santri lain yang berkerumun di tangga masjid. Sekarang seharusnya adalah jadwal kelas kami untuk halaqoh, tapi karena ustadzah berhalangan hadir, jadi kami memiliki free time. Zara tengah memanfatkan waktunya untuk murojaah hafalan alquran, sementara aku hanya termenung. Energiku banyak terkuras oleh kegiatan HW sore tadi, yang dipenuhi hiruk-pikuk santri angkatan kami saking antusiasnya!

              “ assalamualaikum…. Hai ketemu lagi. Bagaiman perasaanmu sekarang , azalea? Baikan ? ah, zara juga. Kamu rajin seperti biasa ya…” kak mala yang kebetulan sedang lewat,menyapa kami. Aku mengernyitkan dahi. Curiga, kalau-kalau si kakak ini hanya sok pencitraan saja didepan ku. Biasanya kan hanya zara yang disapa ? dan darimana pula dia tahu namaku?

              “Waalaikumusalam……” jawabku dan zara bersamaan.”iya, perasaanku sudah lumayan membaik. Terimakasih, kak” ujarku lagi. Kak mala hanya mengangguk dan tersenyum simpul. “Bolehkah aku bergabung dengan kalian?” Tanya kak Mala, tak mempedulikan bisik-bisk santri sekitar yang menatap kami berdua sinis. Uh, aku jadi takut kalau sehabis ini banyak yang membenci kami hanya karena kami berkesempatan  mengobrol dengan sang primadona. “Uh, oke…” Aku dengan ragu mengiyakan.

               Kak Mala pun ikut duduk disampingku. Eh, kalau dilihat-lihat… Kak Mala terlihat sembab. Ah masa sih… Kak Mala habis menangis? Aku tidak mengerti.

              “Hei, kamu yakin benar mau menyerah begitu saja?” Kak Mala menyergah. Aku mengunci rapat-rapat mulutku, tak menjawab. Bahkan, untuk menjawab pertanyaan tadi saja, batinku masih ragu. Zara yang sejak tadi hanya menyimak, tiba-tiba mulai melantunkan sebuah lagu. Bibir yang senantiasa ia basahi dengan lantunan indah kalam Allah itu, kini menggumamkan melodi yang menyejukkan hati setiap orang yang mendengarkannya.

    “Datang suatu masa

    Kita ditemukan…”

              Aku lantas terdiam seribu bahasa. Lagu itu… adalah lagu yang kami nyanyikan bersama saat kegiatan Hizbul Wathan tadi sore. Kurasakan degub jantungku berpacu semakin cepat, seakan juga memacu otakku untuk berpikir lebih keras. Batinku mulai bertanya-tanya. Ah, apa aku akan benar-benar menyerah? Bukannya disini, aku telah dipertemukan dengan seorang sahabat oleh takdir? Apa aku akan menganggap semua perjuangan serta kenangan kami bersama disini, hanya sebagai angin lalu? Hingga aku sebegitu teganya untuk meninggalkan sahabat yang sudah setia menemaniku dalam suka maupun dukaku? Yakinkah aku pasti akan menemukan penggantinya di luar sana?

    “Dilatih bersama dalam kebaikan”

    “Hah, aku dulu juga pernah merasakan jadi di posisi kalian,” potong Kak Mala cepat, “tapi… coba put yourself in her shoes.” Gumamnya lagi, sedikit gusar. Baru kali ini, Kak Mala yang biasanya riang, terlihat lelah. Sekejap, aku hamper tidak mempercayai pandangan mataku. Baru kusadari, ternyata dalam paras wajah cantik yang biasa ditonjolkan Kak Mala, terdapat kerut-kerut halus serta kantong mata sayu yang belum pernah kulihat jelas sebelumnya. Ah… dibalik keriangan dan kepopuleran sang idola, terdapat pula sisi lemahnya. Aku jadi merasa kasihan. Tunggu dulu! Samar-samar, aku ingat pepatah Inggris yang tadi diucapkan Kak Mala. Pepatah itu pernah dibacakan oleh kakakku, sewaktu dia menukilnya dari sebuah buku. Nyaris aku lupa caranya bernapas saat kuingat apa makna dibaliknya.

              Pernahkah aku memikirkan perasaan orang lain melalui cara pandang mereka? Pernahkah aku memikirkan bagaimana kerasnya perjuangan para ustadz-ustadzah, kakak-kakak pengurus, serta para senior dalam mendidik, melatih kami? Dan bukankah yang selalu mereka ajarkan adalah kebaikan? Bahkan, sebuah pondok pesantren yang dibangun juga alasan pastinya untuk kebaikan? Bukankah merupakan suatu kebaikan yang besar pula, jika orangtua kita sudah susah-susah memilih untuk menyekolahkan kita disini? Aku percaya, tidak ada orangtua yang akan tega menjerumuskan anaknya sendiri kedalam keburukan. Kita semua ada disini… adalah demi kebaikan. Jadi, beginikah caraku membalas budi atas semua kebaikan mereka, dengan menyerah?

    “Kini diriku menjadi dewasa

    Bersama dirimu

    Bersiaplah kawan…”

              …kupikir, aku belum cukup dewasa. Tapi kita semua kan, memang sedang melewati proses pendewasaan. Mau tak mau, kitapun harus siap. Tiba-tiba, kurasakan telapak tanganku menghangat. Begitu pula hatiku, ketika kulihat Zara menarik tanganku dalam erat genggamannya. “Ayo kita menjadi dewasa bersama,” ujarnya lirih. Kuanggukkan kepala dengan sepenuh hati.

    “Sahabat HW

    Kita ‘kan selalu bersama

    Bergandengan tangan, Melaju bersama

    Demi masa depan

              Iya, aku sadar bahwa aku sekarang tidak sendirian. Bahkan di belahan dunia lain, pasti ada teman yang juga sedang berjuang, sama seperti kita. Aku menoleh kearah Zara. Perempuan itu hanya tersenyum ketika balas kueratkan genggaman. Ya, duo muslimah ini pasti akan selalu bersama, untuk terus melaju demi meraih masa depan. Zara terus bernyanyi.

    “Sahabat HW

    Kita ‘kan mengejar impian”

              Tentu saja. Adakah orang yang akan terus menggantungkan impiannya di langit angan-angan saja, tanpa berusaha meraihnya? Kalau bagitu, dua adalah pengecut.

    “Disini ‘kan lahir pemimpin-pemimpin

    Untuk masa depan Indonesia”

              “Miris kalau anak jaman sekarang kurang memikirkan nasib bangsanya sendiri. “Kak Mala melenguh. Ia kemudian menghela napas panjang. Ah! Pernyataan tadi benar-benar menusuk hati. Tapi saying, kenyataannya memang seperti itu. Tak terbetik sedikitpun  dalam otakku untuk memikirkan nasib bangsa ini, apalagi untuk memperjuangkannya. Egois sekali, bukan? Padahal, ditanah air inilah kita dilahirkan. Bayangkan, jika kita sebagai anak muda dapat berkarya, atau bahkan sampai bisa memimpin bangsa menjadi lebih baik, selain dapat menaikkan derajat bangsa di mata dunia, kita juga bisa menjunjung tinggi-tinggi nama islam.

    “Lepaskan ragu

    Lepaskan bimbang

    Ragu dan bimbang, lebih baik pulang”

              Sebelumnya, aku memang merasa ragu, bahkan sempat menginginkan untuk menyerah saja. Tapi, daripada aku pulang dan hanya akan mengecewakan orangtua, aku memilih untuk tetap bertahan, mana mungkin setalah sampai sejauh ini, aku akn menganggap seluruh perjuangan, kenangan, serta perjalanan bersimbah keringat kami semua dalam menimba ilmu, hanya serupa angina lalu! Mana mungkin aku akan membalas bufi atas kebaikan mereka semua yang berjasa dengan menyerah, sedang mereka tidak pernh sekalipun menyerah dalam mendidik kami! Ya Allah, aku merasa bersyukur sekali. Dia masih mengasihi ku, mengirimkan dua hambanya untuk hadir dalam kilas hidupku. Rasanya jika aku mengungkapkan rasa terima kasih seebesar gunung Everest sekalipun, tak akan sebanding dengan usaha Zara dan Kak Mala yang telah mengubah pikiranku yang dangkal ini menjadi lebih luas beberapa langkah ke depan.

              Kini, aku telah yakin. Jika ini memang sudah jalan takdirku, maka aku bertekad untuk menjalaninya sampai akhir. Aku tidak akan merasa sendirian lagi, ada banyak teman seperjuangan lain, khususnya sahabt HW-ku yang selalu menemaniku hingga kini. Kami akan bangkit lagi, dan melaju bersama dalam menggapai impian! Allah pasti akan memudahkan jalan menuju syurga babi para hamba-Nya yang menuntut ilmu. Aamiin…

    By: Growmwinnda Sukma Azzahra 

  • Ini Aku, Bukan Mereka !

    Ini Aku, Bukan Mereka !

              Aku, menundukkan kepala. Air mata mulai membanjiri kedua mataku. Reflek, terdengar isak tangis lirih dari bibirku. Beberapakali aku mengusap butiran – butiran kristal yang mengalir di kedua pipiku, hati penuh kata – kata kotor dan kasar, otak berusaha istighfar.

              “ Sudah jangan menangis, jadikan ini sebuah pelajaran bagimu, dan saya harap, semoga ini pertama dana terakhir kalinya kamu memakai jilbab pelanggaran dan jangan pernah kau berbuat kesalahan yang ujung – ujungnya kamu menggunakan jilbab pelanggaran.” Ucap ukhti Arza, pengurus keamanan asrama puteri. “ Tapi, sayakan cumakeluar asrama tidak izin. Kenapa saya yang baru satu kali langsung memakai jilbab pelanggaran ? Sedangkan ukhti Arra yang sering tidak izin pas keluar asrama saja , kenapa gak pernah di iqob ? “ balasku tersenyum sinis, menatapnya dengan tatapan dendam, marah.

              Ukhti Arra terdiam sejenak, meresapi. “ Tapi, kamu pergi Bersama laki – laki yang bukan mahromnya kamu Athaya ! “., “ Tapi dia saudaraku ! “ balasku sentak. “ Iya kami tau, tapi itu bukan mahrommu, Athaya “ balas ukhti Fafa bagian anggota keamanan. “ Iya tau, tapi kalua orang tua saya gak bisa menjenguk saya, terus siapa yang mau menjenguk ? Sedangkan saya anak tunggal, iya kalua saya punya kakak kandung. Dan sekarang intinya gini, kemarin banyak ukhti – ukhti pengurus melihat ukhti Arra berboncengan dengan laki- laki, tetapi kenapa gak di iqob ? Atau gara – gara ukhti Arra punya masa lalu yang buruk sehingga dia berubah jadi nakal ? ya, saya juga punya, punya masa lalu yang buruk sampai – sampai saya berubah jadi kayak gini, masa lalu dimana saya sering di bully, dan lainnya. Saya disini hanya menginginkan sebuah keadilan, keadilan yang nyata. Atau gara – gara ukhti Arra adalah pengurus, sampai – sampai gak diiqob ? Sudahlah, percuma saya jelaskan Panjang lebar tapi gak pernah diresapi.” balasku, menatap marah. Ukhti Arza dan yang lainnya terdiam, eribu Bahasa.

              Aku mengangguk pelan,seolah mengerti apa yang pengurus katakana, sembari mengusap sisa butiran kristal yang masih mengalir. “ Afwan ukhti ana uriddu ilal hujroh.” ucapku, terenyum sinis. Tanpa menunggu jawaban, aku langsung keluar dari ruang mahkamah amn. Keesokan harinya…….

              “ Intibahan – intibahan, Qismul Amn.ini peringatan untuk kalian semua dan semoga ini menjadi pertama dan terakhir kalinya ada kasus seperti ini. Jadikan ini semua sebuah pelajaran.” ucap ukhti Arza lantang dihalaman sekolah. Aku hanya tersenyum sinis. Semuanya menundukkan kepala, takut. “

              Masa – masa hukuman telah selesai. Aku tersenyum sinis, mengembalikan jilbab pelanggaran dan menyerahkan semua hukuman tertulis. Tanda tangan jajaran petinggi dan pengurus, surat pernyataan, satu karya tulis, dan surah Al – Baqorah ayat 1 – 286.” Jangan diulangi lagi, Athaya.” ucap ukhti Arza memecah keheningan. Aku tersenyum sinis, berbalik badan menuju ke kelas, keluar ruangan tanpa pamit.

              “ Athaya, Athaya……., kamu dipanggil Ustadzah Nia suruh ke kantor sekarang, soalnya udah di tunggu dari tadi.” ucap Riza teriak dari kejauhan, “ owh ya, na’am syukron Riz.” balasku teriak. Takut, bertemu guru killer satu madrasah. Mengucap salam, berjalan pelan menuju meja ustadza Nia. “ nduk Athaya sini, masuk saja.” ucap ustadzah Nia setelah melihatku dari cermin. “ owh,iya dzah, lahdzotan ustadzah.” balasku pelan. “ Athaya , selamat , kamu menang lomba IPA juara 3 dan kamu sekarang harus lanjutke tingkat nasional, kalua kamu tak berkenan mengikuti lagi atau lanjut tak apa, tapi ustadzah harap kamu tetap melanjutkannya, eman – eman. Kamu udah kerja keras. Pikirkan baik – baik. Ini, ustadzah harap kamu mengisinya. “ ucap ustadzah Nia, berharap penuh. “ Na’am ustadzah, saya coba pikirkan  baik – baik. Afwan ustadzah, saya mau ke kelas. “ balasku memecah keheningan di ruang kantor. Mengangguk pelan tersenyum lesung pipit, balasnya.

              Berjalan pelan ke midho’ah masjid, sholat dhuha. Kabur pelajaran sebelum istirahat. Pagi berganti siang, siang berganti sore, dan sore berganti malam, terasa begitu cepat. Belajar malam.

              “ Halah apaan, menang juara lomba tapi kelakuannya naudzu billah. Percuma kalua berprestasi, membanggakan madrasah tapi dirinya sendiri kayakgitu. Jangan – jangan kemarin pas daring lomba IPA nya nyontek buku atau enggak buka google, huh dasar. Santri apaan kayak gitu, malu – maluin angkatan aja.” ucap Riza, nyindir. Sontak kelas menjadi rame kayak pasar. Entah dari mulut siapa kompor itu bisa menyala. Satu persatu santri ngeluarin unek – unek , aib atau entah yang lainnya tentang aku. “ huh, udahlah bodoamat bukan urusannya aku, lagian mereka siapanya aku. Ngurusin hidupnya aku, kompor gak akan nyala tanpagas, paling gasnya dia.” ucap aku, di hati.

              Aku yang masih bingug tentang lomba, termenung di balkon asrama, pulang belajar malam. “ Da’watan ila ukhtina Athaya , Athaya , bihudhuri ila amama hujroh ustadzah haalaan.” ucap seorang pengurus di mikrofon, memecah lamunanku. Berjalan santai menuju kamar ustadzah, “ halah paling suruh kedepan kamar ustadzah mau disidang lagi.” ucap seseorang entah dari mana asalnya. Bodoamat, bukan urusanku, aku membatin.

              “ Tok tok tok , Assalamu’alaikum ustadzah, gimana ustadzah ? kenapa memanggil saya ? “ ucapku mengetuk pelan kamar ustadzah. “ ow hiya, ini nduk Athaya ya ? kalua iya keruang tunggu asrama ya, ustadzah mau siap- siap dulu.” balas ustadzah didalam, entah ustadzah siapa. “ na’am ustadzah, ini Athaya, syukron.” balasku teriak sopan.

              Entah apa yang kupikirkan saat ini, bodo amat aja lah. Aku, membukapintu gerbang ruang tunggu asrama, dengan pelan.” Eh , nduk Athaya, nduk ustadzah mau nyampein kabar dari rumah.” ucap ustadzah Ami memecah keheningan di ruang tunggu. “ iya ust, kabar apa ?” balasku kaget, kata kabar tanda tanya besar. “ Emm, kamu yang kuat ya kalua udah denger kabar ini.” balas ustadzah Isti, satu musyrifah dengan ustadzah Ami. Aku mengangguk pelan, peuh tanda tanya besar di otak.

              Aku berkaca – kaca. Reflek , aku menangis keras. Entahlah, rasanya ingin mati sekarang juga. Astaghfirullah.  

              “Berhentilah menangis Athaya. Kamu kuat, kamu anak hebat, maaf ustadzah nggak tau harus bilang gimana lagi. Sekarang terserah nduk Athaya mau gimana. Kalau mau pulang, ustadzah antar kalau tidak ya disini, mantapkan pikiranmu. Keep strong dan ikhlaskan athaya” ucap ustadzah Ami menangis. “Sudah Athaya kamu nak kuat kok” ucap ustadzah Isti, memeluk dan menangis.

              Aku mengangguk pelan, sembari mengusap sisa-sisa butiran kristal yang mengalir. Memikirkan semuanya. Bimbang, sedih, kecewa, khawatir campur aduk menjadi satu di otak dan hati, bimbang. “ maaf” satu kata yang simple tapi sulit diungkapkan. Aku berjalan pelan menuju ke kamar, setelah pamit entah dari mana ada pemikiran, tiba-tiba mengambil bolpen lalu menulis sesuai peritah yang sudah tertera. Entahlah, aku juga bingung kenapa aku menulis itu.

              Keesokan hrinya, aku menyerahkan sebuah kertas yang kutulis setelah menangis tadi malam, ragu-ragu memantapkan hati. “assalamualaikum, ustadzah apa ada ustadzah Zia, ust?” sapa ku masuk kantor. “ waalaikumsalam, masuk aja nduk, kayaknya di dalam ada” balas ustadzah Nia, sekretaris sekolah. “ow hiya ust, syukron” balasku lagi.

              “ eh iya nduk gimana, ada yang bisa ustadzah bantu?” ucap ustadzah zia setelah melihatku.” Ini ust” balasku “ oke nduk Athaya, makasih. Ustadzah percaya kamu anak yang cantic, baik, pintar, jujur, dan tabah. Ustadzah turut berduka cita atas meninggalnya ayah kamu tadi malam. Athaya, kamu anak yang kuat, anak yang tabah. Terimakasih, ustadzah bangga punya seorang santri seperti Athaya, rela gak pulang demi membanggakan orang yang di sayangi. Maaf, ustadzah juga jadi menyita waktunya Athaya buat pulang, buat lihat ayahnya yang terakhir kalinya.ustadzah juga harap, Athaya buat lebih fokus untuk lomba IPAnya plus fokus ujian. Sekarang kamu udah kelas 9, jangan sampai satu kesedihan membuatmu tak fokus pada tujuanmu.” ucap ustadzah Zia berkaca – kaca, tak tega.

              Reflek. Aku menangis lirih,mengangguk pelan, meresapi semuanya, Benar ! aku berjalan pelan setelah pamit, dengan tatapan kosong, mengambil air wudhu dan sholat, sholat Dhuha.

              Di serambi masjid dengan tatapan kosong. Tiba – tiba dari belakang ada yang memelukku, menangis. “ Maafkan aku Athaya, aku dan teman – teman menyindirmu yang bukan bukan. Aku tak tau seberapa keras kamu belajar dan memenangkannya. Aku mewakili teman – teman meminta maaf atas kejadian tadi malam dan turut berduka cita, huhuhu……..maafkan aku Athaya.” ucap Riza. Aku tersentak kaget.” Bagaimana mereka bisa tau ?” aku membatin. “ Aku dan teman – teman tau karena dikasih tau oleh ustadzah Ami.” ucap Riza, seolah dia tau apa yang sedang aku pikirkan. “ Sekali lagi maafkan aku Athaya……” ucap Riza lirih, menangis dalam pelukn. Aku menatapnya sendu, mengangguk pelan dan tersenyum.” Allah Yuftah Alaikum, Athaya.” “ Na’am syukron, za.” balasku pelan.

              Dua hari berlalu denga sangat cepat, tapi santai.

              “Athaya, semoga usahamu tak sia – sia. Bismillah, kamu pasti bisa.” Ucap teman – teman satu persatu, memelukku.” Na’am syukron. Do’akan aku.” balasku “ Selalu Athaya” balas mereka, tersenyum. “ Ayo Athaya, kita berangkat, ini sudah telat.” ucap  ustadzah Zia, memecahkan suara untukku. “ na’am ustadzah , afwan.” balasku tersenyum.

              Beberapa jam kemudian, sampailah di tempat lomba. Ucapan selamat dating menyambut kami di depan gerbang. Jantungku berdetak semakin kencang, hati berusaha menenangkannya. Bismillah, memasuki ruang lomba, ya kita terlambat, jadi gak ikut acara pembukaan. Pikiran dan hati menyeimbangkan. Bismillah aku bisa.” Athaya, semangat. Ustadzah percaya kamu bisa, Hamasyah.” ucap ustadzah Zia, menyemangati. Aku menganggu pelan, tersenyum.

              Bismillah, aku mengawalinya. Menghitung nilai – nilai dari rumus fisika yang rumit di pikiran, perlahan tapi pasti. Sembari menunggu waktu selesai, aku menyempatkan mengecek ulang jawabanku.” Perhatian – perhatian. Lomba IPA tingkat nasional 2020 telah selesai, harap lembar soal dan jawaban di kumpulkan ke pengawas ujian. Dan untuk seluruh peserta dan pembimbing harap segera ke ruang aula untuk menikmati hidangan yang telah disiapkan serta beberapa pertunjukan, sekian dan terima kasih.” ucap seseorang di pengeras suara. 

              “ ayo, Athaya. Kita sholat dhuha terlebih dahulu.” Ucap ustadzah Zia setelah aku keluar ruangan. “ Na’am ustadzah.” Balasku tersenyum lega. Setelah sholat dhuha kita berjalan ke aula, menikmati hidangan dan pertunjukan. Dua jam kemudian,” Perhatian – perhatian, maaf ini keralatan, bahwa pemenang lomba akan di umumkan hari ini juga. Bismillah, pemenang lomba IPA tingkat nasional 2020 adalah Juara III Khoirunnisa Mutiara Sheila dari kota Kebumen, Juara II Bintang Callosa Collolangi dari kota Kendal, dan Juara I nya adalah……. Azzaransya Tsabita Athaya dari kota Wonosobo. Harap peserta pemenang lomba untuk segera menuju panggung beserta pembimbingnya.” Ucap seorang pembawa acara, riuh tepuk tangan memenuhi ruangan aula.

              Aku, tersentak kaget tak percaya. Ustadzah Zia, tersenyum bahagia menatapku mengangguk. Berjalan pelan ke panggung. Serah terima piagam, piala, medali perak dan uang tunai, selesai. Aku tersenyum bahagia, “ Athaya, mau pulang jam berapa ?” ucap ustadzah Zia.” Kalau semuanya sudah selesai, sekarang aja gak papa kok ust.” balasku.” Oke sekarang aja ya biar gak pulang malam.” balas ustadzah Zia. Aku mengangguk.

              “ Ustadzah apa boleh saya ke makam ayah sebentar ? kalau enggak boleh enggak papa kok ust.” Aku tersenyum memelas. “ Iya, ayo gak papa kok , tapi sebentar aja ya…..ustadzah izinkan ke bagian perizinan dulu.” Balas ustadzah Zia tanpa pikir panjang, seolah mengerti apa yang kurasakan. “ Syukron ustadzah” jawabku semangat.

              Sesampainya dirumah, masih banyak orang yang datang melayat. Ibu menatapku berkaca – kaca. Reflek, aku menangis dalam pelukan ibu. Ustadzah berusaha menenangkanku. Aku menatap ibu, dan mengangguk, seolah Ibu tau apa yang sedang aku pikirkan. Berjalan pelan, menangis ke makam.

              “ Ayah maafin Athaya…. Maaf jika selama ini Athaya punya salah sama ayah, sering buat ayah marah, buat ayah kesel, buat ayah kecewa, buat ayah khawatir dan masih banyak lagi, Athaya minta maaf ayah….” Ucapku menangis, masa lalu itu kembali terbayang – bayang.” Ayah sudah maafkan Athaya, sudah Athaya jangan nangis lagi nanti ayah jadi sedih.” Ucap Ibu, berkaca – kaca.” Maafkan Athaya ayah, maaf Athaya nggak bisa lihat ayah yang terakhir kalinya. Athaya bingung harus milih yang mana, maafkan Athaya ayah. Ayah lihatkan, Athaya sekarang disini membawa apa ? Athaya membawa impian – impian ayah. Athaya sudah berjanji sama ayah dan sekarang janji Athaya sudah lunas, tapi kenapa ayah harus pergi dulu ….. “ ucapku setelah bangga dan menyesal. “ ayah sudah maafkan Athaya. Ayah sekarang lihat Athaya bawa apa kok. Ayah disana pasti seneng punya anak kayak Athaya. Bangga “ ucap ibu menyemangati.

              Aku menangis kencang. Air hujan perlahan turun setelah mengikuti apa yang sedang kurasakan. Ibu dan ustadzah Zia berusaha membujukku untuk pulang dan aku kukuh duduk memeluk papan kayu. “ Athaya…” teriak seseorang, suaranya aku kenal. Riza yang engawali dan teman – teman mengikutinya, memelukku, menguatkan. Mereka, seolah juga merasakan, menangis memaksaku untuk pulang. Aku , tetap kukuh disitu, tak pedui.” Athaya ayo pulang, kamu basah kuyup nanti demam, Athaya…. Ikhlaskanlah , biarkan ayahmu tenang disana… “ ucap Riza membujuk, teman – teman yang lain pun ikut membujukku.

              Benar, yang dikatakan ibu, ustadzah Ami,Riza dan teman – teman, semuanya benar. Aku mengangguk pelan, meminta waktu untuk sendiri bersama ayah, mereka memaklumi. “ Athaya, ayo pulang, sudah hamper maghrib.” Ucap Riza, menemaniku disamping pusaran ayah memayungi kami berdua. Aku mengangguk pelan, “ Ayo Riza, makasih.” balasku, sembari mengusap sisa – sisa butiran air mata. Riza mengangguk pelan, tersenyum seolah dia berkata “ kamu anak yang hebat Athaya..”

              Senja sore, menghiasi langit – langit. Hujan berhenti mendadak, terdengar suara kicauan burung. Seolah mereka menyemangatiku. Ini aku, ini diriku, dan ini jalan takdirku.

    “ Nenenk moyangku adalah seorang pelaut, bukan yang lain.

       Jadi gelombang arus kehidupan akan tetap ada dan selalu ada.

       Jadi jaga layarmu agar tetap berkembang dan pertahankan diri

       dari keseimbangan arus. Jadi, kamu tetap harmonis dengan alam.”

                                                                                _Motto hidup Sha_

    Temanggung, 24 Oktober 2020

    Shafira Amalia Fatma