Tag: MTs Al Mu’min tembarak temanggung

  • eRTe FM Goes to School Bersama Kejaksaan Negri (Kejari), Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Kominfo Kabupaten Temanggung

    eRTe FM Goes to School Bersama Kejaksaan Negri (Kejari), Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Kominfo Kabupaten Temanggung

    TEMANGGUNG – MTs Al – Mu’min Muhammadiyah Tembarak Temanggung bekerjasama dengan LPPL Radio eRTe FM Temanggung mengadakan kegiatan kegiatan eRTe FM Goes to School yang di isi langsung dari Kejaksaan Negri (Kejari) Temanggung dan Badan Narkotika Nasional (BNN) selama dua hari (13-14/2). Kegiatan tersebut diikuti oleh seluruh staf dan santri MTs Al – Mu’min Muhammadiyah Tembarak Temanggung.

    MTs Al – Mu’min Muhammadiyah Tembarak Temanggung (Tsamuha) adalah lembaga pendidikan Islam dibawah naungan Pondok Pesantren Al – Mu’min Muhammadiyah Tembarak Temanggung (ALMATERA) yang berdiri sejak tahun 1982. Salah satu misi Tsamuha adalah mempersiapkan siswa  atau murid menjadi Insan yang memiliki Aqidah Sholihah, Akhlaqul Karimah, Berfikir Kritis, Wawasan Lingkungan, serta memiliki keterampilan hidup dengan benar dan baik.

    MTs Al – Mu’min memiliki 3 program kelas unggulan. Salah satunya adalah program kelas literasi. Kelas literasi adalah program unggulan yang fokus pada  3 keterampilan. Yaitu keterampilan dalam membaca, menulis dan berbicara (public speaking). Tujuan diadakan kegiatan eRTe FM Goes to School adalah meningkatkan kemampuan membaca, menulis, dan berbicara di depan umum. Serta memberikan pemahaman pentingnya bijak menggunakan gadget termasuk etika bermedia sosial, menjaga diri dari bahaya penggunaan obat – obat terlarang seperti narkotika, dan pemahaman terhadap undang – undang hak cipta.

    “Semoga dengan kehadiran kru dapat memberikan manfaat, menambah semangat literasi, menambah wawasan cakrawala yang semakin luas bagi seluruh santri MTs Al – Mu’min Muhammadiyah Tembarak Temanggung. Sehingga santri MTs Al – Mu’min tidak menjadi orang yang seperti di dalam tempurung kelapa. Kami keluarga besar Pondok Pesantren ALMATERA mengapresiasi kegiatan ini atas kerja kolaboratif, inovatif, inspiratif serta special touchnya untuk MTs Al – Mu’min.” ungkap Bendahara Pondok ALMATERA Miftakhul Amili, S.Pd. dalam sambutan acara.

    Dalam kegiatan eRTe FM Goes to School ini, kru dari eRTe FM datang ke sekolah untuk memberikan informasi atau edukasi seputar pendidikan. Pada kesempatan kali ini, Tsamuha mengambil informasi tentang hukum plagiasi dan cyberbullying yang disampaikan oleh Kejaksaan Negeri Kabupaten Temanggung dan narkoba yang dijelaskan oleh BNNK Temanggung.

     “Sinergi, Inovasi bisa menjadikan Inspirasi bagi santri Almatera terkhusus Tsamuha, dengan harapan kedepannya dapat memanfaatkan situasi atas perkembangan zaman dengan yang positif dan manfaat bagi dunia dan akhirat.” Pesan Direktur LPPL eRTe FM Puspa Angger.

    Kejaksaan Negeri menyampaikan “Kenali Hukum Jauhi Hukuman” sebagai moto dalam mencapai sebuah ketaatan yang menjadikan suatu kesuksesan. Pada hari kedua, kegiatan ini juga diisi oleh Kominfo Temanggung dengan materi Pentingnya Bijak Menggunakan Gadget Serta Etika Bermedia Sosial.

    Kegiatan eRTe FM Goes to School sebagai bentuk sinergi untuk memperkuat program unggulan kelas literasi dan merupakan bentuk pemenuhan fasilitas bagi seluruh santri MTs Al – Mu’min Muhammadiyah Tembarak Temanggung.

    “ Merupakan peluang besar bagi kami untuk bisa bekerjasama dengan eRTe FM Temanggun, sehingga b9sa mendatangkan Kominfo, Kejaksaan, dan BNN. Dengan harapan agar seluruh santri MTs Al – Mu’min bisa mengambil ilmu yang disampaikan oleh orang lain selain ustadz / ustadzah di pondok, dan besar harapan kami bagi santri dapat mengetahui pentingnya literasi di masa sekarang.” Terang Yuntofiah, S.Pd selaku ketua panitia. Berkat terlaksananya kegiatan literasi ini, seluruh santri MTs Al – Mu’min semakin bersemangat untuk menggali informasi baik melalui membaca, observasi, maupun mendengarkan berita. Beberapa santri menyampaikan kesan pesan serta  harapan untuk kegiatan literasi yang menurut mereka sangat mengasyikkan serta menyenangkan. “Kegiatan eRTe FM ini sangat menyenangkan karena bertemu tim radio eRTe FM Temanggung secara langsung bersama dengan tim Kominfo, BNN dan Kejaksaan Negeri Temanggung. Kegiatan yang sangat mengedukasi santri untuk tidak pernah merasa cukup dalam menggali ilmu dan informasi. Harapan kami  semoga kedepannya MTs Al – Mu’min bisa lebih sering berkolaborasi dengan eRTe FM baik diluar maupun didalam madrasah.” ungkap Arindra Renata kelas VIII Pi Literasi Mts Al – Mu’min.  

    (Umi Hasan P.J/Tsamuha)

  • Junjung Kerukunan: Ponpes Almatera Terima Kunjungan dari Sorong Papua Barat

    Junjung Kerukunan: Ponpes Almatera Terima Kunjungan dari Sorong Papua Barat

    Temanggung – (24/10) Pondok Pesantren Al-Mu’min Muhammadiyah Tembarak (Almatera) Temanggung menerima kunjungan tamu dari Majelis Dikdasmen Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Sorong Papua Barat. Rombonga hadir dengan menggunakan 3 armada bus dengan jumlah peserta kurang lebih 104 orang, tiba di Ponpes Almatera pukul 16.00 WIB.

    “Terharu sekali diterima dengan suasana seperti ini,” ungkap salah satu tamu dari Papua seketika turun dari bus.

    Rombongan berangkat tanggal 16/10 dari Papua naik kapal selama 4 hari 3 malam kemudia sampai di Surabaya dan di jemput oleh bus menuju SMK Gondang Legi, SMA Trensains, MI Karanganyar, SMP Muhammadiyah PK Kota Barat, SMK Sukoharjo, Pondok Pesantren Al-Mu’min Muhammadiyah Tembarak (Almatera), kemudian ke SD Muhammadiyah Plus Salatiga.

    Muhammadiyah berkembang di sorong sejak 1956. Di kabupaten sorong terdapat 19 sekolah tingkat SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA/SMK dan 54 sekolah TK. Juga terdapat 2 universitas, Universitas Muhammadiyah Sorong (UMS) dan Universitas Pendidikan Sorong (UNIMUDA). Mengembangkan dan menjaga Muhammadiyah beserta AUMnya merupakan amanah yang tidak boleh ditinggalkan. “Para pendahulu telah bersusah payah membangun AUM, maka saat ini menjadi tanggung jawab kami untuk mengembangkannya,” ungkap Ir H. Eko Tafif Mariyanto perwakilan Majelis Dikdasmen PDM Kab. Sorong Papua Barat.

    Muhammadiyah di sorong sudah sangat baik perihal penerimaan masyarakat. Tidak hanya anak-anak muslim saja yang dididik, namun juga anak-anak non muslim. Mereka enjoy, nyaman, dan sudah seperti keluarga sendiri. “Hak-hak anak non muslim tetap kami penuhi, tak ada paksaan untuk mereka, kita wujudkan NKRI yang sebenar-benarnya,” lanjut Ir H. Eko Tafif Mariyanto dalam pidato sambutannya.

    “Semoga kunjungan ini membawa manfaat untuk Pondok Pesantren Al-Mu’min Muhammadiyah Tembarak juga bagi Majelis Dikdasmen Sorong Papua Barat,” ungkap Mudirul Mahad Ponpes Almatera Kyai Syamsuri Adnan.

    Aprince Blesia merupakan salah satu peserta dalam studi banding ini, Ia adalah siswi dari SMK Muhammdiyah Aimas, Sorong. Ia memeluk agama nasrani, namun ia merasa nyaman-nyaman saja dengan bersekolah di Muhammadiyah. “Acara ini sangat bagus, saya sangat senang bisa tampil di muka bareng kakak semua, saya juga sangat senang bisa foto-foto dengan kakak-kakak dan juga ustadzah,” ungkap Aprince Blesia disela-sela penampilan dari para santri ponpes Almatera.

    Kesan mendalam juga tersirat pada santri-santri ponpes Almatera. Para santri terkesan dengan tarian-tarian asal papua. “Meskipun, daerah Papua ini terkenal dengan agama Kristennya tetapi orang islam disana tetap teguh pendiriannya. Bahkan mereka juga melaksanakan sholat tepat pada waktunya layaknya mereka hidup di daerah mayoritas islam. Walaupun, ada satu atau dua anak yang berbeda agamanya,” ungkap Zakiya Rosyida Azzahro dan Nadiffa Althaf Vayzza. (Almatera Media)

  • Dilan (Persimpangan Remaja, Orang Tua dan Pendidikan Agama)

    Dilan (Persimpangan Remaja, Orang Tua dan Pendidikan Agama)

    M Thoriqul Ula, S.Pd.I (Pengajar MTs Al-Mu’min Muhammadiyah dan Ketua PCPM Tembarak Selopampang)

    Awal tahun 2018 Indonesia kembali dilanda kehebohan. Bukan karena wacana impor beras di tengah panen raya, bukan karena kasus korupsi E-KTP yang sangat rumit, bukan juga bencana yang melanda di mana-mana, atau terbongkarnya sindikat narkoba 1 ton di Batam. Tetapi, hadirnya film romansa Dilan 1990 di akhir bulan Januari itu yang membuat geger dikalangan kaum muda.

    Kehebohan itu seakan tiada hentinya dan bahkan pembicaraan seputar film ini menempati trending topic di Indonesia. Maklum, kaum muda sekarang ini adalah penggiat utama aktivitas dunia maya, sehingga tidak heran, virus Dilan menyebar bak wabah demam berdarah yang menjangkiti kawula muda.

    Meledaknya film ini dikalangan kaum muda mudi tidak lepas dari genre yang diangkat dalam film ini yaitu tema romantisme percintaan sepasang kekasih. Jalinan kasih antara Dilan dan Milea yang begitu menghipnotis pemirsanya membuat anak-anak usia sekolah, terbawa dalam kondisi film tersebut (baper). Kata-kata romantis Dilan yang begitu dalam membuat hati Milea luluh, ternyata juga berdampak pada penonton. Buktinya, kata-kata romantis Dilan menjadi update status wajib di media sosial. Bahkan tidak jarang gombalan Dilan menjadi jurus jitu mendapatkan banyak jempol dari followers di media sosial.

    Memang para pelaku dunia hiburan seakan tidak pernah habis cara untuk membius kaum muda untuk larut dalam hegemoni film-film romansa. Tema percintaan menjadi menu favorit yang wajib dikonsumsi oleh muda mudi Indonesia. Rasanya bahkan sampai pada kesimpulan belum kids zaman now kalau belum nonton film percintaan.

    Film-film dengan tema percintaan, kisah kasih dua sejoli dan sebagainya bisa berdampak berbeda di kalangan anak muda. Ibarat sisi mata uang, masing-masing ada dampak baik dan buruk. Positifnya adalah generasi muda Indonesia mampu melahirkan karya-karya yang diterima baik oleh masyarakat Indonesia, dan mampu bersaing di tengah gencarnya hegemoni Hollywood dan Bollywood. Dampak negatifnya inilah yang sekiranya perlu diwaspadai, terutama bagi kaum muda muslim dan muslimah. Bisa jadi bahkan menjerumuskan pada perzinaan. Dampak negatif itu di antaranya:

    Pertama, membiaskan makna ta’aruf dan legalisasi pacaran. Ini berbahaya, tidak saja bagi kaum muda, tetapi orang tua perlu merasa khawatir dengan paradigm seperti ini. Latar belakang pemain film yang Islam, adanya kegiatan ibadah dalam film, dan kata assalamu’alaikum yang menunjukkan bahwa adegan itu terjadi dalam keluarga muslim. Masalahnya adalah dalam film ditampilkan pacaran sebagai ajang mengenal sebelum menikah mendapat legitimasinya. Orang tua yang membolehkan anaknya pacaran, pulang pergi berdua boncengan, makan malam berdua, bergandengan tangan tanda sayang menjadi pemandangan biasa dalam pacaran. Parahnya adalah dalam peran orang tua membolehkan bahkan pamit dengan salam assalamua’alikum. Pacaran sebelum menikah tidak pernah ada konsepnya dalam Islam, dan bahkan cenderung memaksakan. Sehingga makna ta’aruf sangat berbeda dengan makna pacaran yang ada saat ini.

    Kedua, melegalkan hal-hal yang dilarang dalam Islam sebelum waktunya. Bergandengan tangan, berpelukan, rangkulan, berboncengan, bahkan sampai mencium adalah pemandangan yang mungkin sangat biasa dijumpai dalam adegan-adegannya. Yang perlu diingat bukankah sudah jelas bahwa Islam melarang bersentuhan (bersentuhan saja dilarang) dengan lawan jenis, mafhum muwafaqahnya, apalagi yang lebih seperti bergandengan, berpelukan dan sebagainya. Perlu dicatat, tidak semua pemeran dalam film tersebut adalah mahram (bukan muhrim, arti muhrim adalah orang yang berihram), dan sudah sangat jelas bahwa hal-hal tersebut dilarang.

    Ketiga, tidak hanya remaja bahkan virus ini menyebar ke anak-anak di sekolah dasar. Usia yang seharusnya menjadi usia yang menyenangkan karena keceriaannya bermain dan belajarnya, justru malah sudah disibukkan dengan urusan asmara. Parahnya lagi, sesama anak SD yang menjalin hubungan asmara sudah saling memanggil dengan sebutan papa mama. Miris dan menyayat hati, tapi itulah kenyataan yang terjadi. Anak-anak sudah direnggut masa kecilnya denga urusan asmara yang bisa dikatakan sangat belum layak dikerjakan.

    Permasalahan-permalahan remaja yang sangat rentan ini salah satu faktornya adalah berawal dari kebiasaan menonton adegan-adegan romantis di layar kaca. Maka, apa yang harus dilakukan kemudian melihat keadaan ini yang menjadi fenomena dihampir seluruh wilayah di Indonesia.. Salah satu kuncinya adalah ada di orang tua.

    Hal pertama yang harus dilakukan oleh orang tua adalah tanamkan sejak usia dini kepada anak tentang pemahaman agama Islam yang benar dan mendalam. Orang tua dalam hal ini menjadi lakon utama untuk memberikan pemahaman agama yang benar, terutama masalah hubungan antara lawan jenis. Ini juga menuntut orang tua untuk bisa mempunyai bekal ilmu agama yang cukup agar dalam penyampaian kepada anak tidak salah tafsir. Jangan samakan ta’aruf dengan istilah pacaran, apalagi dengan embel-embel Islaminya. Tidak ketinggalan pula orang tua harus bisa memberikan contoh yang baik dan benar kepada anak. Mulai dari cara berpakaian yang benar menurut syariat, seperti pakaian yang longgar dan tidak mepet, jilbab yang menutupi bagian tubuh dan sebagainya sampai pada kebiasaan sehari-hari. Serta damping anak-anak ketika menonton film, terutama yang bertemakan romansa kehidupan pacaran usia sekolah.

    Selanjutnya adalah sekolahkan anak di lembaga pendidikan berbasis agama. Dunia pendidikan Islam di Indonesia sekarang sudah mengalami banyak kemajuan. Terbukti dengan banyaknya pondok-pondok pesantren yang ada di Indonesia. Pesantren merupakan solusi yang baik untuk tempat anak menempuh pendidikan agama. Karena sudah banyak sekali pilihan pesantren yang ada di Indonesia. Meskipun demikian tidak menafikan peran sekolah yang menawarkan boarding school atau mengedepankan kurikulum Islam sebagai unggulannya. Artinya memilihkan tempat pendidikan bagi anak-anak dengan kriteria agama Islam sebagai unggulannya. Karena pastinya lembaga dengan unggulan keIslaman ini sangat membatasi pergaulan antara lawan jenis, bahkan bisa jadi saling dipisahkan. Hal ini tentunya sangat mendidik bagaimana seharusnya bergaul yang benar menurut syariat antara laki-laki dengan perempuan.

    Memilih Islam sebagai unggulan dalam pendidikan anak memang tidak mudah. Kadang orang tua lebih memilih prestasi-prestasi akademik untuk si anak, tapi mengesampingkan pendalaman ilmu agama. Atau bahkan lupa tidak memberikannya karena kesibukannya atau berbagai hal lainnya. Kalau keadaan seperti ini terus dibiarkan maka, sekali lagi anaklah yang menjadi korban. Hiburan yang tidak mendidik kemudian menjadi panutan bukan lagi syariat agama. Tokoh idola non muslim menjadi digandrungi dari pada sosok fenomenal Salahudin Al Ayyubi pembebas tanah suci. Sekali lagi, kuncinya ada di orang tua sebagai madrasah pertama bagi anak-anaknya.