Dilan (Persimpangan Remaja, Orang Tua dan Pendidikan Agama)
Oleh :Author

M Thoriqul Ula, S.Pd.I (Pengajar MTs Al-Mu’min Muhammadiyah dan Ketua PCPM Tembarak Selopampang)

Awal tahun 2018 Indonesia kembali dilanda kehebohan. Bukan karena wacana impor beras di tengah panen raya, bukan karena kasus korupsi E-KTP yang sangat rumit, bukan juga bencana yang melanda di mana-mana, atau terbongkarnya sindikat narkoba 1 ton di Batam. Tetapi, hadirnya film romansa Dilan 1990 di akhir bulan Januari itu yang membuat geger dikalangan kaum muda.

Kehebohan itu seakan tiada hentinya dan bahkan pembicaraan seputar film ini menempati trending topic di Indonesia. Maklum, kaum muda sekarang ini adalah penggiat utama aktivitas dunia maya, sehingga tidak heran, virus Dilan menyebar bak wabah demam berdarah yang menjangkiti kawula muda.

Meledaknya film ini dikalangan kaum muda mudi tidak lepas dari genre yang diangkat dalam film ini yaitu tema romantisme percintaan sepasang kekasih. Jalinan kasih antara Dilan dan Milea yang begitu menghipnotis pemirsanya membuat anak-anak usia sekolah, terbawa dalam kondisi film tersebut (baper). Kata-kata romantis Dilan yang begitu dalam membuat hati Milea luluh, ternyata juga berdampak pada penonton. Buktinya, kata-kata romantis Dilan menjadi update status wajib di media sosial. Bahkan tidak jarang gombalan Dilan menjadi jurus jitu mendapatkan banyak jempol dari followers di media sosial.

Memang para pelaku dunia hiburan seakan tidak pernah habis cara untuk membius kaum muda untuk larut dalam hegemoni film-film romansa. Tema percintaan menjadi menu favorit yang wajib dikonsumsi oleh muda mudi Indonesia. Rasanya bahkan sampai pada kesimpulan belum kids zaman now kalau belum nonton film percintaan.

Film-film dengan tema percintaan, kisah kasih dua sejoli dan sebagainya bisa berdampak berbeda di kalangan anak muda. Ibarat sisi mata uang, masing-masing ada dampak baik dan buruk. Positifnya adalah generasi muda Indonesia mampu melahirkan karya-karya yang diterima baik oleh masyarakat Indonesia, dan mampu bersaing di tengah gencarnya hegemoni Hollywood dan Bollywood. Dampak negatifnya inilah yang sekiranya perlu diwaspadai, terutama bagi kaum muda muslim dan muslimah. Bisa jadi bahkan menjerumuskan pada perzinaan. Dampak negatif itu di antaranya:

Pertama, membiaskan makna ta’aruf dan legalisasi pacaran. Ini berbahaya, tidak saja bagi kaum muda, tetapi orang tua perlu merasa khawatir dengan paradigm seperti ini. Latar belakang pemain film yang Islam, adanya kegiatan ibadah dalam film, dan kata assalamu’alaikum yang menunjukkan bahwa adegan itu terjadi dalam keluarga muslim. Masalahnya adalah dalam film ditampilkan pacaran sebagai ajang mengenal sebelum menikah mendapat legitimasinya. Orang tua yang membolehkan anaknya pacaran, pulang pergi berdua boncengan, makan malam berdua, bergandengan tangan tanda sayang menjadi pemandangan biasa dalam pacaran. Parahnya adalah dalam peran orang tua membolehkan bahkan pamit dengan salam assalamua’alikum. Pacaran sebelum menikah tidak pernah ada konsepnya dalam Islam, dan bahkan cenderung memaksakan. Sehingga makna ta’aruf sangat berbeda dengan makna pacaran yang ada saat ini.

Kedua, melegalkan hal-hal yang dilarang dalam Islam sebelum waktunya. Bergandengan tangan, berpelukan, rangkulan, berboncengan, bahkan sampai mencium adalah pemandangan yang mungkin sangat biasa dijumpai dalam adegan-adegannya. Yang perlu diingat bukankah sudah jelas bahwa Islam melarang bersentuhan (bersentuhan saja dilarang) dengan lawan jenis, mafhum muwafaqahnya, apalagi yang lebih seperti bergandengan, berpelukan dan sebagainya. Perlu dicatat, tidak semua pemeran dalam film tersebut adalah mahram (bukan muhrim, arti muhrim adalah orang yang berihram), dan sudah sangat jelas bahwa hal-hal tersebut dilarang.

Ketiga, tidak hanya remaja bahkan virus ini menyebar ke anak-anak di sekolah dasar. Usia yang seharusnya menjadi usia yang menyenangkan karena keceriaannya bermain dan belajarnya, justru malah sudah disibukkan dengan urusan asmara. Parahnya lagi, sesama anak SD yang menjalin hubungan asmara sudah saling memanggil dengan sebutan papa mama. Miris dan menyayat hati, tapi itulah kenyataan yang terjadi. Anak-anak sudah direnggut masa kecilnya denga urusan asmara yang bisa dikatakan sangat belum layak dikerjakan.

Permasalahan-permalahan remaja yang sangat rentan ini salah satu faktornya adalah berawal dari kebiasaan menonton adegan-adegan romantis di layar kaca. Maka, apa yang harus dilakukan kemudian melihat keadaan ini yang menjadi fenomena dihampir seluruh wilayah di Indonesia.. Salah satu kuncinya adalah ada di orang tua.

Hal pertama yang harus dilakukan oleh orang tua adalah tanamkan sejak usia dini kepada anak tentang pemahaman agama Islam yang benar dan mendalam. Orang tua dalam hal ini menjadi lakon utama untuk memberikan pemahaman agama yang benar, terutama masalah hubungan antara lawan jenis. Ini juga menuntut orang tua untuk bisa mempunyai bekal ilmu agama yang cukup agar dalam penyampaian kepada anak tidak salah tafsir. Jangan samakan ta’aruf dengan istilah pacaran, apalagi dengan embel-embel Islaminya. Tidak ketinggalan pula orang tua harus bisa memberikan contoh yang baik dan benar kepada anak. Mulai dari cara berpakaian yang benar menurut syariat, seperti pakaian yang longgar dan tidak mepet, jilbab yang menutupi bagian tubuh dan sebagainya sampai pada kebiasaan sehari-hari. Serta damping anak-anak ketika menonton film, terutama yang bertemakan romansa kehidupan pacaran usia sekolah.

Selanjutnya adalah sekolahkan anak di lembaga pendidikan berbasis agama. Dunia pendidikan Islam di Indonesia sekarang sudah mengalami banyak kemajuan. Terbukti dengan banyaknya pondok-pondok pesantren yang ada di Indonesia. Pesantren merupakan solusi yang baik untuk tempat anak menempuh pendidikan agama. Karena sudah banyak sekali pilihan pesantren yang ada di Indonesia. Meskipun demikian tidak menafikan peran sekolah yang menawarkan boarding school atau mengedepankan kurikulum Islam sebagai unggulannya. Artinya memilihkan tempat pendidikan bagi anak-anak dengan kriteria agama Islam sebagai unggulannya. Karena pastinya lembaga dengan unggulan keIslaman ini sangat membatasi pergaulan antara lawan jenis, bahkan bisa jadi saling dipisahkan. Hal ini tentunya sangat mendidik bagaimana seharusnya bergaul yang benar menurut syariat antara laki-laki dengan perempuan.

Memilih Islam sebagai unggulan dalam pendidikan anak memang tidak mudah. Kadang orang tua lebih memilih prestasi-prestasi akademik untuk si anak, tapi mengesampingkan pendalaman ilmu agama. Atau bahkan lupa tidak memberikannya karena kesibukannya atau berbagai hal lainnya. Kalau keadaan seperti ini terus dibiarkan maka, sekali lagi anaklah yang menjadi korban. Hiburan yang tidak mendidik kemudian menjadi panutan bukan lagi syariat agama. Tokoh idola non muslim menjadi digandrungi dari pada sosok fenomenal Salahudin Al Ayyubi pembebas tanah suci. Sekali lagi, kuncinya ada di orang tua sebagai madrasah pertama bagi anak-anaknya.

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mungkin anda suka . . . .

IAIN Kudus Tunjuk MTs Al-Mu’min Menjadi Narasumber KKL Online

IAIN Kudus Tunjuk MTs Al-Mu’min Menjadi Narasumber KKL Online

Temanggung - (30/7/2020) MTs Al-Mu’min Muhammadiyah Tembarak Temanggung dibawah naungan Pondok Pesantren Al-Mu’min menjadi narasumber pada kegiatan Online-Field Work Lecture (Online Cross Culture Understanding in Field Work Lecture) yang...