Sisi Menarik SMK Dato’ Sri Amar Diraja

 

 

Di susun oleh : Muhammad Thoriqul ‘Ula, S.Pd.I

Guru Sejarah Kebudayaan Islam MTs Al-Mu’min Muhammadiyah Tembarak Temanggung, Redaktur Buletin Cerah MTs Al-Mu’min Muhammadiyah.

Sekolah Menengah Kebangsaan Dato’ Sri Amar Diraja Muar, Johor Malaysia.

Pondok Pesantren Al-Mu’min Muhammadiyah melalui unit MTs dan MA baru saja melaksanakan kegiatan Student Exchange Malaysia 2018 dengan mengirim 4 santrinya dan 4 guru pendamping untuk saling bertukar ilmu dan budaya di Sekolah Menengah Kebangsaan Dato’ Amar Diraja Daerah Muar, Johor Malaysia. Kegiatan tersebut dilaksanakan mulai Sabtu, 24 Februari 2018 sampai dengan Kamis, 2 Maret 2018.

Selama berkegiatan di Malaysia banyak hal yang bisa diterapkan dalam konteks pendidikan, terutamanya sekolah-sekolah yang ada di Temanggung. Berikut adalah beberapa hal tersebut.

Pertama, sekolah sebagai tempat untuk mempersiapkan peserta didik di masa depan. Sudah sangat wajar memang salah satu tugas dari sekolah adalah mempersiapkan peserta didik agar menjadi insan yang siap bersaing dan survive dengan perkembangan zaman. Sekolah menjadi rujukan utama dalam bekal peserta didik, mulai dari sisi religi, akademik, keterampilan, kemasyarakatan dan keterbukaan terhadap ilmu pengetahuan yang baru.  Kemampuan sekolah untuk meramu semua kebutuhan anak dalam satu paket pendidikan inilah yang bagus dan layak untuk ditiru, utamanya di sekolah masing-masing.

Kedua, moving class atau kelas yang berpindah-pindah. Temanggung khususnya secara garis besar masih (meskipun sudah ada yang menerapkan) belum bisa moving class secara maksimal. Karena selama ini yang berpindah-pindah hanya guru saja, peserta didik belum tentu dala sehari mendapatkan kesempatan untuk berpindah kelas, atau tidak belajar di kelas. Fasilitas yang memadai memang menjadi faktor pendukung utama, moving class berjalan dengan maksimal, tetapi ini bukan alasan. Justru dengan minimnya fasilitas akan menuntut guru untuk bisa berfikir lebih kreatif bagaimana membangun kelas yang tidak membosankan, monoton dan biasa-biasa saja. Jangan sampai kelas yang diajar menjadi garing, membosankan atau bahkan menjadi kamar tidur pengganti yang di rumah.

Ketiga, guru menempati tempat yang terhormat di mata peserta didik. Kalaulah kita melihat animasi Ipin Upin, maka yang akan teringat di benak salah satunya adalah sapaan yang khas dari seluruh murid kepada guru yang baru datang memasuki pintu. Ternyata gambaran tersebut nyata terjadi ketika rombongan guru Indonesia datang melihat ke dalam kelas, peserta didik menyambut bak itu guru yang biasa mengajar. Mereka menyapa sambil berdiri dari tempat duduknya dan mengarahkan pandangannya kepada kami. Sebuah pemandangan yang menakjubkan dari anak-anak sekolah di Dato’ Sri Amar Diraja. Pananaman karakter untuk menghormati guru tertanam dengan baik, tidak melihat itu guru dari Malaysia atau Indonesia, mereka tetap melihat posisinya sama yaitu guru. Yang jelas bukan karena memang disetting mereka melakukan hal seperti itu kepada guru, tapi lebih kepada bagaimana adab yang sebenarnya seorang murid kepada gurunya.

Keempat, setiap sudut sekolah adalah area pendidikan. Kantin yang identik dengan makanan pun ternyata bisa menjadi tempat untuk belajar Kimia, Sejarah, Seni Budaya, Keterampilan bahkan Fisika. Kantin sekolah disulap mejanya menjadi seperti papan tulis yang terbalik. Meja yang biasanya dilapisi dengan taplak, justru dilapisi materi pelajaran-pelajaran dan semua terkait dengan pelajaran sekolah. Sehingga peserta didik ketika makan makanan ringan, makan soto, nasi lemak, ataupun bercengkerama bersama teman-teman di kantin masih bisa mengingat dan belajar pelajaran tersebut. Tidak hanya di meja kantin saja, di anak tangga sekalipun tidak dibiarkan menganggur begitu saja. Setiap anak tangga ditulis dengan hiasan kata-kata mutiara, motivasi, dan nasihat. Peserta didik yang akan naik tangga pastinya akan membaca kata-kata tersebut. Secara tidak langsung justru hal semacam inilah yang akan tertanam lama di pikiran anak-anak, karena mereka akan melihat, membaca, dan memikirkan hal baik tersebut berulang-ulang setiap harinya.

Kelima, yang terakhir adalah tentang kebersihan. Perlu diketahui bahwa baru saja Bandar Diraja Muar mendapatkan prestasi yang sangat membanggakan, yaitu menjadi kota paling bersih se kawasan Asean. Kota yang bersih ternyata berdampak juga pada keadaan sekolah yang bersih. Kebersiahan sudah menjadi kebutuhan bukan lagi paksaan. Sehingga tidak pernah dijumpai ada anak yang membuang sampah di laci, pojokan meja, selipan vas bunga, bawah pohon, atau ditempat tersembunyi lainya. Piket kelas tidak lagi harus guru yang mengingatkan tetapi menjadi kebutuhan. Sekolah Menengah Kebangsaan Dato’ Sri Amar Diraja yang letaknya di kota berhawa lebih panas dari sejuknya Temanggung ternyata lebih bersih, rapi dan sekali lagi tidak ada sampah di mana-mana.

Kelima hal di atas paling tidak menjadi motivasi bagi sekolah-sekolah agar terus membenahi diri menjadi lebih baik lagi dan lagi. Meskipun tidak bisa langsung kelimanya diterapkan dalam sekolah kita, namun tidak perlu menunggu. Mulailah dari sekarang jangan menunggu kesempurnaan baru bergerak. sebagaimana yang sering diungkapkan oleh Prof Imam Robandi Guru Besar ITS Surabaya sekaligus motivator pendidikan bahwa untuk kemajuan sekolah mulailah dari hal yang terkecil, mulai dari diri sendiri dan mulailah dari sekarang.

1 Comment

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mungkin anda suka . . . .

IAIN Kudus Tunjuk MTs Al-Mu’min Menjadi Narasumber KKL Online

IAIN Kudus Tunjuk MTs Al-Mu’min Menjadi Narasumber KKL Online

Temanggung - (30/7/2020) MTs Al-Mu’min Muhammadiyah Tembarak Temanggung dibawah naungan Pondok Pesantren Al-Mu’min menjadi narasumber pada kegiatan Online-Field Work Lecture (Online Cross Culture Understanding in Field Work Lecture) yang...