Selintas Pandang Pendidikan Di Muar Johor Malaysia
Oleh :Author

 

Dilaporkan   oleh Samsul, M.Pd., kepala  MTs Al-Mu’min Muhammadiyah Tembarak Temanggung.

Akhir Februari hingga awal Maret 2018, saya dan tiga guru lainnya—Ust. M. Thoriqul Ula, Ust. Makmun Pitoyo,  Ust. Khoirut Thomami—  serta empat santri, Laila Yumna Erlinda (MTs), Armiana Dyfa R, Fara Dafa Islam, Nur Zakiyaturrahmah Sular ketiganya  santri MA Pondok Pesantren Al-Mu’min Muhammadiyah Tembarak Temaggung berkesempatan mengikuti program Student Exchange 2018 yang diselenggarakan oleh Jaringan Penggerak Sekolah dan Madrasah  Muhammadiyah (JPSM) Indonesia. Kegiatan ini diikuti oleh 54 peserta,  terdiri dari 11 guru  43 siswa  Sekolah Dasar,  Sekolah Menengah  Pertama, dan Madrasah Aliyah   Muhammadiyah. Mereka berasal dari Jakarta,  Banyuwangi, Sragen, Klaten, Purworejo, Wonosobo, dan Temanggung. Untuk mengetahui seperti apa kegiatan Student Exchange di negeri Jiran Malaysia,  berikut catatan Lontar.

———————————————————————————————————————————————–

Ahad, 25/2 pukul 02.00  terminal D2 Bandara Sukarno-Hatta (Sutta) masih terasa lengang. Kantor jasa penerbangan masih ditutup. Hanya beberapa toko yang buka menyediakan makanan  ringan dan minuman siap saji. Di kursi tunggu yang tersedia berlarik-larik, saya lihat tidak ada yang kosong. Semuanya terisi calon penumpang yang rehat menunggu pelayanan penerbangan dimulai. Mereka ada yang terlelap tidur. Namun, sebagian besar duduk bersandar. Saya mencoba mengusir lelah usai perjalanan Temanggung-Jakarta dengan bersandar di kursi panjang deretan pertama. Sesekali saya paksakan untuk memejamkan mata,   namun  terasa sulit. Maklum selain baru pertama kali akan  meninggalkan tanah air, terbayang juga berbagai kegiatan di negeri yang memiliki klub sepak bola tangguh tingkat  Asia yaitu Johor Darul Takdzim (JDT). Dari kejauhan terdengar sayup suara adzan. Kami bergegas mengambil air wudhu untuk sholat subuh berjama’ah. Pukul 11.40 kami terbang menuju KLIA Malaysia.

Setelah mengangkasa kurang lebih 120 menit, pesawat Lion Air yang membawa rombongan  mendarat di bandara Kuala Lumpur International Airport (KLIA) Malaysia pada  pukul 14.15 waktu Malaysia. Rombongan kemudian terpencar . Ada yang mencari surau atau musholla untuk jamak qosor sholat dzuhur dengan  asar.  Ada yang masuk di tandas (toilet). Selain itu ada juga yang masuk di tempat pengurupan (baca: penukaran) uang. Sebagiannya,  membeli kartu paket handphone agar bisa segera menghubungi keluarga di rumah.

Hari pertama kami akhiri dengan menikmati keramaian taman gedung pencakar langit menera kembar Petronas. Gedung ini berdinding kaca dengan 88 lantai. Dibangun  sekitar tahun 90-an pada masa perdana menteri Mahathir Muhammad. Penjagaan polisi lumayan ketat. Di depan menara kembar ini tertata apik taman bunga. Setiap pengunjung wajib menjaga kebersihan.  Konon katanya dilarang swafoto dengan menggelar bener di taman menara kembar Petronas. Namun, dengan sembunyi-sembunyi kami dapat mengabadikan foto tepat di depan gedung dengan kalimat “Peserta Student Exchange  MTs/MA Al-Mu’min Muhammadiyah Tembarak Temanggung Indonesia.” sebelum akhirnya kami masuk hotel Sani Kuala Lumpur pada pukul 23.30.

Menanti adzan subuh di hotel Sani Kuala Lumpur terasa menjemukan. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 06.09. Seharusnya pada pukul tersebut Kuala Lumpur sudah mengumandangkan adzan. Di Jakarta setiap waktu sholat, terdengar sahut menyahut suara adzan dari masjid dan musola. Di Kuala Lumpur ternyata tidaklah demikian. Waktu pagi, saya di Hotel Sani dibangunkan oleh suara burung hantu yang terbang di pepohonan sekitar hotel.

Usai makan pagi, saya menuju pasar seni. Di pasar ini dijual berbagi macam kerajinan tangan mulai dari harga 1 Ringgit Malaysia (RM) sampai dengan ratusan ringgit. Perjalanan dilanjutkan ke kota tua Malaka.

Malaka adalah kota tua dengan arsitektur kota yang apik, situs sejarah dan bangunan tua masih terpelihara dengan baik. Malaka dikenal sebagai kota bersejarah, dan sejak tahun 2008 ditunjuk sebagai  kota Herritage Dunia oleh UNISCO karena keunikan dan kekayaann sejarahnya.

Kota ini memiliki nilai sejarah yang besar karena kota ini sebelumnya dijajah oleh tiga negara yaitu Portugis, Belanda dan Inggris. Arsitektur bangunan ini menjadi sangat menarik karena dari tiga gaya arsitektur bekas negara jajahan bisa Anda temukan di sini.

Malaka ditemukan oleh pangeran Palembang pada abad ke 14. Pangeran membangun Malaka menjadi sebuah kota nelayan kecil  yang menjadi pusat perdagangan pelabuhan pedagang India dan China. Sampai saat ini Malaka memiliki kedekatan hubungan dengan Sumatera.

 

Muar Kota Pelancongan dan Pendidikan

Distrik Muar terletak di barat laut negara bagian Johor, Malaysia. Distrik Muar terdiri dari kota Muar itu sendiri dan distrik kecil Tangkak. Muar  menarik perhatian dunia lantaran kota ini tertata dengan rapi. Jalan aspal   luas dan halus. Tidak berlubang-lubang dan tidak ada tanjakan. Dari driver bas pelancongan  (bus wisata) yang kami sewa, saya mendapatkan cerita bahwa kecepatan bus wisata tidak boleh melampui standar.  Jarak mobil satu dengan lainnya yang beriringan sekitar 30 meter , kecuali kalau mau menyalip jarak bisa lebih rapat. Rem jarang dipakai, lebih-lebih membunyikan klakson. Di negeri Upin Ipin ini, membunyikan klakson dinilai tidak sopan.

Kota ini sangat bersih dan indah. Tidak ada pedagang kaki lima. Tidak ada penjual bensin eceran. Semua beli bensin di pompa bensin dengan cara swalayan. Setiap sudut-sudut simpangan banyak kita temui taman. Burung-burung bebas terbang dan berkicau riang.  Tidak perlu khawatir di tangkap pemburu. Bahkan banyak burung seperti burung jalak yang bertebangan di sekitar jalan raya. Tentang penataan dan kebersihan kota, konon menurut informasi setiap satu jam sekali petugas kebersihan akan berkeliling menyapu sampah. Wajar jika  di tahun 2017, Muar mendapatkan penghargaan Asean Clean Tourist City Standart Award, atau penghargaan kota wisata terbersih se Asean.

Sisa-sisa tahun baru Imlek masih terasa di sana-sini dan tampak terlihat dengan banyaknya lampu-lampu lampion. Selain itu, diberbagai sudut jalan, sudut gang masuk perumahan, depan kantor pemerintah maupun swasta, sekolah, tempat-tempat srtategis lainnya, berkibar  bendera Kesultanan Johor dan Kebangsaaan Malaysia. Bendera berkibar seperti itu sudah menjadi pemandangan setiap saat, bukan hanya dalam rangka memperingati hari ulang tahun kemerdekaan. Rupanya cara ini cukup ampuh menumbuhkan nasionalisme kabangsaan mereka.

Rumah penduduk Muar rata-rata besar, halamnnya luas dan memilik garasi yang cukup untu memarkir dua sampai tiga mobil. Mobil paling banyak dipakai   di Malaysia adalah merk proton, produk kebanggaan Malaysia. Jika ada sepuluh mobil yang sedang berjalan di jalan raya, dapat ditaksir  delapan diantaranya adalah merk  proton.

Setiap rumah rata-rata dihuni 6 anggota keluarga terdiri orangtua dan anak. Jumlah penduduk Muar di tahun 2010 sebanyak 62.330 jiwa. Sedangkan luas wilayahnya adalah 1376 km2. Bandingkan dengan  jumlah penduduk Temanggung tahun 2013 sebanyak 739.875 dengan luas wilayah 870,25 km2. Muar memang masih lengang.

Jika Anda sampai di Muar jangan lewatkan  destinasi wisata berikut ini:   Don Hu Jurassic Park,  Sultan Ibrahim Jamek Mosque, Tanjung Emas Muar, Demang Abdul Ghani Galerry, Muar Nan Hai Fei Lai Temple, Laman Maharani, Nam Thein Temple, Muar State Railway MSR. Tempat-tempat wisata tersebut selain menyimpan kenangan sejarah juga menyajikan berbagai hiburan edukasi, kerajinan,  kuliner khas, dan pemandangan  bandar  laut Tanjung Emas yang memanjakan.

Selasa  27/2 pukul 08.30 waktu Malaysia, Bas Pelancongan yang membawa rombongan Student Exchange tiba di halaman Sekolah Menengah Kebangsaan (SMK) Datok Sri Amar Diraja Muar. Para Cik Gu (guru) dan murid-murid  sudah siap menyambut kami dan membawa masuk  ke ruang transit Dewan Sri Amar. Teh tarik khas Johor, dan berbagai jenis makanan kecil sudah tersedia di meja bundar. Sambil menyilahkan menikmati hidangan, guru besar (kepala sekolah) SMK Datok Sri Amar Diraja Tn. Hj. Radi Bin Yahaya menceritakan bahwa untuk menyukseskan Program Pengantar bangsaan dan Jalinan Kebudayaan Pejabat Pendidikan Daerah Muar dengan JPSM Muhammadiyah Indonesia, telah dirapatkan oleh guru-guru besar distrik Muar dan dibentuk panitia yang diketuai langsung oleh En. Puniran bin Denan, Pegawai Pendidikan Daerah Muar (kepala dinas pendidikan). En. Puniran bin Denan adalah  Kepala Dinas Pendidikan Daerah Muar yang memiliki riwayat keturunan dari Banjarnegara.

Usai rehat sejenak, kami disiapkan untuk menuju ruang pertemuan. Jarak antara ruang transit dengan ruang pertemuan sekitar 100 m. Sambil diiringi tampilan rebana siswa SMK Datok Sri Amar Diraja, kami dipersilakan berjalan menuju ruang pertemuan. Di dalam ruangan sudah dipenuhi para siswa dan Cik Gu. Tinggal kursi utama paling depan yang diperuntukkan tamu dari Indonesia, guru besar, pengetua (ketua MKKS) dan Pegawai Pendidikan Daerah Muar.

Acara resmi dimulai dengan menyanyikan lagu Bangsa Johor dan lagu Negaraku. Dilanjutkan alu-aluan Pengacara Majlis yang disampaikan oleh kepala sekolah SMK Datok Sri Amar Diraja. Persembahan budaya diperagakan pelajar kedua bangsa dimulai dari tari melayu oleh pelajar SMK Datok Sri Amar Diraja, tarian juga disuguhkan oleh pelajar dari SMK Tun Dr Ismail, Muar. Sedangkan JPSM Muhammadiyah Indonesia menampilkan tari menyambut tamu yang dimainkan oleh pelajar SMP Muhammadiyah 9 Jakarta, Seni Tapak Suci oleh santri Insat Banyuwangi, metode belajar bahasa Arab dengan gerak dan lagu yang dikenal dengan metode sahta oleh santri ponpes Al-Mu’min Muhamadiyah Tembarak Temanggung.

Acara dilanjutkan dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara SMK Datok Sri Amar Diraja Muar, SMK Tun Dr Ismail, Muar dengan MTs dan MA Al-Mu’min Muhammadiyah Tembarak Temanggung, SMP Muhammadiyah 9 Jakarta dan ponpes Insat Banyuwangi. Sementara untuk tingkat Sekolah Dasar dipusatkan di Sekolah Kebangsaan Parit Bakar Tengah, Muar. MoU ini memuat tentang program pertukaran pelajar, program peningkatan mutu pendidikan, dan program jalinan kebudayaan.

Dalam sambutannya kepala Dinas Pendidikan Muar menyampaikan terima kasih atas Program Pengantarbangsaan dan Jalinan Kebudayaan. Ia meminta agar peserta baik siswa maupun guru antara dua bangsa ini dapat saling berbagi untuk mendapatkan manfaat bersama. “Kita memiliki akar budaya yang sama, oleh karena itu kita saling bersaudara.” Demikian Tn Puniran menyudahi sambutannya.

 

Siswa mukim  bersama  keluarga angkat

Selama kegiatan pertukaran pelajar, siswa bermukim  bersama  keluarga angkat. Mereka akan berangkat dan pulang  sekolah dari dan ke rumah keluarga angkat. Much Harisma dan Farhan Gholib  tinggal bersama  keluarga angkat En Mohd Safian Bin Pathil. Raeka Andina dan Ivon Aulia tinggal bersama  keluarga angkat En Rashiq Bin Abu Bakar. Wafa Fatmah dan Laela Yumna tinggal serumah dengan kelaurga angkat Pn Fareha Binti Suhud. Armiana Dyfa dan Fara Daffa Islam tinggal dengan En Mohd Hazni Bin Ali. Nurzakiyaturrahmah Sular tinggal dengan keluarga angkat Pn Hjh Kamariah Binti Othman. Di keluarga angkat para siswa dari Indonesia akan belajar budaya  masyarakat Malaysia. Mambantu pekerjaan rumah tangga, memasak makanan khas, menata kamar tidur, menyapu ruangan dan halaman. Serta belajar berkomunikasi dengan keluarga melalui bahasa yang berbeda.

Kegiatan pelajar  Indonesia di Sekolah   Menengah Kebangsaan mengikuti proses pembelajaran. Belajar bahasa Jepang, belajar bahasa China, belajar bahasa Melayu, belajar  membatik, belajar agama.  Semua pembelajaran tersebut berbasis IT. Bahkan secara khusus para pelajar  Indonesia mendapat pembelajaran proses peluncuran  roket air yang diperagakan  dan diluncurkan di halaman sekolah tersebut oleh murid-murid SMK Datok Sri Amar Diraja.

Sistim pembelajarannya moving class, yaitu salah satu sistim pembelajaran yang bercirikan siswa mendatangi guru mata pelajaran yang sudah siap mengajar di ruang yang telah ditentukan.  Selain itu,  pelajar Indonesia  juga diberi kesempatan mengikuti tanding uji  kemampuan menyelesaikan tugas  dengan siswa-siswi SMK Datok Sri Amar Diraja. Tak disangka diantara  sembilan pelajar Indonesia itu, tiga diantaranya mendapatkan hadiah juara.  Cik Gu-Cik Gu di SMK Datok Sri Amar Diraja juga memberi kesempatan pada pelajar Indonesia untuk presentasi profil dan unggulan sekolah masing-masing.

Di saat para pelajar Indonesia mengikuti proses pembelajaran, para guru Indonesia mengadakan diskusi-diskusi bertukar informasi dunia pendidikan . Saya dan teman-teman juga mendapat gambaran langsung tentang Pedoman Pembelajaran Abad ke -21 (PAK-21) yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan Malaysia. Selain buku PAK-21, Kementerian Pendidikan Malaysia dan Kantor Pejabat Pendidikan Daerah Muar  juga menerbitkan buku Standartd Kualiti Pendidikan Malaysia Gelombang Kedua (SKPMg2). Dua buku tersebut menjadi pedoman wajib pelaku pendidikan di Muar Johor. Di halaman 4 buku tersebut tertulis definisi pembelajaran abad ke 21, yaitu  A learning process that focuses on a student centred approach based on elements of commmonication, collaboration, critical thingking, creativity, and values and ethical applications. Proses pembelajaran yang berpusatkan murid berteraskan elemen komunikasi, kolaboratif, pemikiran kritis, dan kreativiti serta aplikasi nilai murni dan etika.

Cik Gu En Mohd Hazni Bin Ali membawa kami mengunjungi bilik-bilik (kelas/ruang). Mulai dari ruang kelas, ruang laboraturium, ruang perpustakaan, ruang komputer, pusat kegiatan sukan (olah raga), ruang guru, ruang perpustakaan, kantin, ruang tamu, tempat jamuan tamu, kebiun sekolah, taman sekolah, pusat lab cabai dan nanas sampai dengan mengikuti ceramah di masjid sekolah. Berasarkan pengamatan saya di kelas, proses pembelajaran sudah menggambarkan apa yang dikonsepkan dalam PAK-21 dan SKPMg2.

Selain melihat langsung penerapan konsep PAK-21 dan SKPMg2, saya berkesempatan mendapatkan undangan dari Tn Lukman Bin Simon Timbalan Pegawai Pendidikan Daerah Muar untuk diskusi,  MoU dan melihat-lihat aktivitas kantor pendidikan distrik Muar. Begitu sampai di kantornya  JKR 241, Jalan Arab, 84000, Muar Johor kami terkagum dengan dinding-dinding ruangan kantor pendidikan yang penuh dengan tulisan program, terget, pesan, motivasi, tata tertib, etika moral, nilai-nilai relegius. Semuanya itu, menurut Tn Lukman menjadi semboyan kami  “Muar Number One, Muar Pendidikan Mapan.”

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mungkin anda suka . . . .

IAIN Kudus Tunjuk MTs Al-Mu’min Menjadi Narasumber KKL Online

IAIN Kudus Tunjuk MTs Al-Mu’min Menjadi Narasumber KKL Online

Temanggung - (30/7/2020) MTs Al-Mu’min Muhammadiyah Tembarak Temanggung dibawah naungan Pondok Pesantren Al-Mu’min menjadi narasumber pada kegiatan Online-Field Work Lecture (Online Cross Culture Understanding in Field Work Lecture) yang...