Santri Tsamuha

 

Berfikir

Dengan fikiran yang jernih dan bersih

Bertindak

Dengan bismillah dan keyakinan

berdoa

Dengan tulus dan pasrah dengan hasil

Oleh : Ulinnuha Farah Makhabbati, Afroh Hana Taqiya, Sekar Ayu Kinanti/ Santri kelas 8 Pi MTs Al-Mu’min Muhammadiyah Tembarak Temanggung, member Kelas Literasi.

Apa itu literasi? hmmm…itulah pertanyaan yang dilontarkan pembawa acara di Konferensi Pimpinan Wilayah (KONPIWIL) IPM Jawa Tengah yang diselenggarakan di Graha Bhumi Phala Temanggung (16/02/2018). Teman-teman, tahu tidak apa itu Literasi? Nah… ini jawabannya, “literasi itu bukan hanya berhubungan dengan membaca dan menulis, juga bukan keahlian atau kepandaian, melainkan kecerdasan serta pengetahuan” kata Drs. Tirto Suwondo selaku pemateri dari Balai Bahasa Jawa Tengah.

Beliau berpesan nih guys, untuk membuat target sehari minimal setengah halaman untuk menulis apa saja, dan bisa dikirimkan ke siapa saja, bisa teman sekolah, buletin sekolah atau majalah sekolah. Serta meningkatkan rutinitas membaca sebagai bekal untuk bisa menulis. Salah satu caranya bisa dengan membuka juga di web www.kajiansastra.com.

Pembicara lain seperti cak David Efendi, beliau eks PP IPM bidang Pengembangan Ilmu Pengetahuan yang menyebutkan bahwa kaum muda harus menjadi nahkoda dalam literasi. Sebagai proses belajar sepanjang masa (long life education), dalam rangka menjadi subjek, dan menjadikan manusia yang bijak, kritis dan kreatif, peduli, dan simpati serta berempati, pada sesama manusia dan lingkungannya.

Cak Efendi juga menyebutkan bahwa KH Ahmad Dahlan pernah mendirikan Taman Pustaka. Nah lho… zaman penjajahan Belanda saja sudah bisa mendirikan Taman Pustaka. Wah wah wah…ternyata semangat literasi sudah ada sejak zaman old ya hehe, yang sudah ada pada diri KH Ahmad Dahlan. Inilah motivasi bagi kita generasi mileneal, yang katanya generasi maju, modern, bahkan canggih, masa tidak bisa mengikuti jejak beliau, atau paling nggak meniru gitu semangat berliterasinya. Eits, tetapi ingat berkarya dalam literasi itu harus yang mendidik tidak merusak, menarik tidak menyudutkan serta anti hoax. Akhirnya mari kita berubah menjadi Ahmad Dahlan zaman now hehe.